Wednesday, February 15, 2012

Bagaimana Kabar Tugas Akhir VB 6.0 saya???

Jeng jeng... Hari kamis minggu kemarin, Pak Ugi' - guru yang ngajar SD VB 6.0 - bilang..
wes rampunggg.. nggarek nggarap sing program toko buku. Dinggo tugas akhir, yo.. wektune 2 minggu. 

Dengan santai kayak di pantai beliau ngumymin tugas akhir itu. Waduhhh GUBRAK... gimana tuh.. Pertama kali dapet tugas itu aku optimis bisa ngerjain, terus seraching si si pakdhe google dapet buku bagus buat ntu tugas, eh sudah seribu toko buku ( ALAY emang Jogja ada seribu toko buku???) aku kelilingin, ntu bagu kagak ketemu. Cari buku yang serupa juga udah indak ado. Tanya sama petugas toko bukunya katanya kalau buku komputer terbitnya cuma sekali, dan ntu buku terbit tahun 2009 dan sekarang udah tahun 2012. Jadinya sekarang bingung gimana mau ngerjainnya. Jadinya malah pesimis sekarang...

Tapi pokoknya ntu tugas harus selesai tepat pada waktunya. Butuh tutor ini buat bantuin, siapa yang mau...??????? 

Tuhanku...
Dengarkan jeritan hati siswa SMK yang sedang GALAU memikirkan tugas akhirnya
Kirimkanlah seorang tutor untuk membantunya menyelesaikan tugasnya 
Kalau tidak berikanlah ia dapat menemukan buku yang ia cari

Tuhanku...
Kabulkan do'a ku..

Amiiin

Sunday, February 12, 2012

Sunshine Becomes You

Hahaii Ini dia buku ke-5 Ilana Tan setelah tetralogi 4 musim. Liat sampulnya aja udah buat aku pingin baca. Tapi mesti nahan diri dulu nih buat nggak beli. Secara UAN udah deket, mesti belajar rajin nih... Tak apalah, setelah UNAS bakalan punya waku luang banyakkkk banget buat baca banyak novel.





“Walaupun tidak ada hal lain di dunia ini yang bisa kaupercayai, percayalah bahwa aku mencintaimu. Sepenuh hatiku.”


ini ada cuplikannya...

”Oh, celaka!” Mia terkesiap kaget ketika mengeluarkan ponsel dari tasnya. Alex Hirano sudah mencoba menghubunginya berkali-kali, tetapi Mia tidak menyadarinya karena ponselnya berada di dalam tasnya yang ditinggalkan di kursi penonton. Ia bergegas mengenakan celana jins dan sepatu, lalu berpamitan kepada guru tarinya.

Laki-laki itu pasti marah besar, pikir Mia cemas dan cepat-cepat menelepon Alex Hirano. Mia berlari-lari kecil menyusuri koridor di antara deretan kursi penonton ke arah pintu keluar.

Pada deringan kedua, suara Alex Hirano pun terdengar di ujung sana. ”Clark? Kenapa kau tidak menjawab teleponku?”

Mia mengernyit. ”Maaf,” katanya cepat. ”Aku tidak mendengar bunyi telepon.”

”Apakah kau tahu sudah berapa lama aku menunggu?”

”Maaf,” ulang Mia. ”Kau ada di mana sekarang? Aku akan segera ke sana.”

”Berhenti,” kata Alex Hirano tiba-tiba.

Mia otomatis berhenti melangkah walaupun ia tidak mengerti apa yang dimaksud laki-laki itu. ”Apa?”

”Ya, berhenti seperti itu,” kata Alex. ”Sekarang berputar ke kiri.”

Mia menuruti kata-kata Alex Hirano.

Dan mata Mia melebar kaget ketika melihat Alex Hirano duduk beberapa kursi jauhnya dari tempatnya berdiri. Laki-laki itu tersenyum kecil kepadanya sambil menurunkan ponsel dari telinga.

Mia mengerjap heran. Pertama, karena Alex Hirano tersenyum. Laki-laki itu belum pernah tersenyum kepadanya selama Mia mengenalnya. Alex memang sering tersenyum hambar dan sinis, tetapi itu tidak bisa dihitung sebagai ”senyuman”, bukan? Kedua, karena Alex Hirano ada di sana. Mia tidak tahu mana yang lebih mengherankan baginya.

”Kenapa kau bisa ada di sini?” tanya Mia sambil menoleh ke kiri dan ke kanan, seolah-olah mencari seseorang yang bisa menjelaskan kenapa Alex Hirano ada di sana, lalu kembali menatap laki-laki itu. ”Sudah berapa lama kau di sini?”

Alex Hirano memasukkan ponselnya ke saku celana dan berkata ringan, ”Omong-omong, kau sudah boleh menurunkan ponselmu.”

Mia tersentak dan menyadari ponselnya masih ditempelkan ke telinga. Ia buru-buru memasukkannya kembali ke dalam tas. Ia baru ingin mengulangi pertanyaannya ketika Alex menyelanya.

”Jadi itu yang dinamakan tari kontemporer,” gumam Alex sambil memandang ke arah panggung, tempat para penari sibuk berlatih.

Mia tidak tahu apakah Alex Hirano sedang membicarakannya atau para penari di panggung itu. Apakah laki-laki itu melihatnya menari tadi?

”Aku tidak menyangka kau mendengarkan lagu-lagu Italia,” lanjut Alex sambil kembali menoleh ke arah Mia.

Oh ya, laki-laki itu sudah ada di sini ketika Mia menari tadi.

Mia mengangkat bahu dan membalas, ”Aku bahkan tidak menyangka kau tahu lagu itu lagu Italia.”

Alex Hirano menatap Mia dengan mata disipitkan, tetapi kali ini Mia tidak merasa ingin mundur teratur. Tatapan Alex kali ini bukan tatapan dingin dan bermusuhan. Dan omong omong, Alex juga tidak marah-marah karena tidak bisa menghubungi Mia dan terpaksa harus menunggu. Mengherankan sekali.

”Aku ini musisi,” sahut Alex dengan sebersit nada angkuh dalam suaranya. ”Tentu saja aku tahu semua jenis lagu dan musik.”

Mia ingin membalas bahwa bukan musisi saja yang perlu tahu tentang musik. Penari juga perlu. Tetapi saat itu Alex berdiri dari tempat duduknya dan melangkah keluar dari deretan kursi penonton, jadi Mia mengurungkan niatnya dan menyingkir sedikit untuk memberi jalan.

Alex keluar dari teater dan Mia mengikutinya dari belakang. ”Jadi kau sudah bertemu dengan gurumu?” tanya Mia berbasa-basi sambil mengenakan jaket luarnya.

Alex mengangguk. ”Sudah.”

”Gurumu masih ingat padamu?”

”Tentu saja,” sahut Alex dengan nada tersinggung, seolah-olah semua orang di Juilliard pasti tahu siapa dirinya.

Mia tidak berkomentar.

Alex ragu sejenak, lalu akhirnya bertanya, ”Yang tadi itu guru tarimu?”

Mia melirik Alex. Sungguh, laki-laki itu agak berbeda hari ini. Ia mengajaknya mengobrol, padahal biasanya ia hanya akan bicara dengan kalimat pendek dan seperlunya. Sepertinya suasana hati Alex Hirano sedang baik hari ini.

”Ya,” sahut Mia singkat. ”Salah satunya.”

”Dia sangat memujimu tadi.”

”Benarkah?” gumam Mia sambil lalu.

Alex menoleh menatapnya. ”Katanya kau salah satu penari terbaiknya.”

”Oh ya?” Mia mengangkat bahu. ”Banyak penari lain yang lebih baik dariku. Omong-omong, kau mau pergi ke mana sekarang? Pulang? Bagaimana kalau kau tunggu di pintu depan dan aku akan pergi mengambil mobil…”

Alex menggeleng dan menyela, ”Aku belum ingin pulang.”

”Oh? Lalu kau mau pergi ke mana?”

Alex berpikir sejenak. Lalu sekali lagi seulas senyum samar tersungging di bibirnya dan ia berkata, ”Toko musik.”


Hmmm.... bikin penasaran aja. Moga ada ya... yang mau beliin aku ni novel, abis lumayan juga nih harganya!
Amiin ^.^

Have fun with it....

4 alasan kenapa aku pingin banget PKL di luar Jogja

1.Aku muak tinggal di rumah

 Aku muak tinggal dirumah, setiap hari aja ada masalah yang terjadi, meskipun penyebabnya sepele. Barang-barang dirumah banyak yang nggak selamet kalau si kakak lagi marah besar. Alasannya tak lain dan tak bukan karena si Bapak yang sukanya bikin gara-gara. Aku capek menghadapi itu semua setiap hari.

2. Pingin banget ngrasain mudik yang SEBENARNYA

Idhul fitri kemarin aku baca status-status kakak kelasku yang kayaknya happy banget bisa pulang kampung setelah berbulan-bulan nggak ketemu keluarga karena lagi cari ilmu alias PKL di luar kota. Dari situ rasanya pingin banget bisa ngrasain yang namanya mudik yang bener-bener mudik.

3.  Pingin belajar MANDIRI

Disini MANDIRI yang kumaksud bukan Mandi Sendiri tapi, benar-bener belajar buat nggak tergantung terus sama orang tua, tapi bukan berarti lepas sepenuhnya. Hanya mencoba untuk tidak terlalu tergantung sama keluarga. Masak sendiri, cuci sendiri, nyetrika sendiri, bangun pagi sendiri, pokoknya serba sendiri.

4. Pingin Tahu perasaan si dia gimana kalau aku nggak ada


Si dia itu orangnya cuek minta ampuuuunnn kalau sama aku.Nggak tahu kenapa. Aku cuma mau tau gimana rasanya tinggal jauh dari dia, Bakalan berbeda nggak ya? Terus apakah dia juga bakalan tetep cuek kalau kita udah nggak bisa ketemu. Childish banget sebenernya, Tapi lama-lama aku jenuh juga dicuekin dia melulu. 
 

Friday, February 10, 2012

What the....

 His status!!!

Does Because of this???



I don't even remember writing it!!!

Aku ...


           Aku bukanlah dia...
           Akupun bukan mereka...
           Tapi aku adalah aku, tak peduli apa yang mereka katakan. Aku berbeda dari dia, jika dia begitu maka aku begini. Aku tidaklah sama dengan mereka, kalau mereka ingin yang itu maka yang aku inginkan adalah ini. Aku mensyukuri semua yang aku punyai sekarang, termasuk luka ini. Luka yang telah menyayat hatiku terlalu dalam bahkan telah membuatnya mati rasa.
          Setiap detik perputaran jarum jam yang terjadi, memberikan satu perubahan yang berbeda. Entah itu perubahan kecil ataupun besar. Aku yang saat ini bukanlah aku yang dahulu. Aku yang saat ini berbeda dengan aku esok lusa, atau aku esok yang akan datang.
         Aku mencintai apa yang ada disekitarku. Aku mencintai Ibuku, Adikku, Kakakku, temanku, dan aku mencintai hidupku, meski terkadang hidupku tak seindah hidupnya, dan hidup mereka. Aku menyukai udara yang membuatku tetap bernafas, aku menyukai hujan yang memberikan kehidupan, aku menyukai matahari yang bersinar di pagi hari. karena Itu semua memberikanku kedamaian.
         

         
 

Tuesday, December 6, 2011

Review Film Breaking Dawn Part 1


Akhirnya, Film yang ditunggu-tunggu oleh Penggemar The Twilight Saga rilis juga. Tepatnya tanggal 18 November yang lalu. Yuppp.. Breaking Dawn Part 1. Ahh... sebenarnya agak kecewa juga kenapa harus dijadiin 2 part, tapi mau gimana lagi. Secara... novelnya aja nyampe 862 halaman, kalau nggak dijadiin dua mau berapa jam itu film. 
Sebenarnya, aku agak kecewa juga sama filmnya. Mengapa? Entahlah... bayanganku waktu mbaca novelnya berbeda jauh dengan penggambaran di filmnya. Waktu baca novelnya semua yang digambarkan oleh Stepheni Meyer terasa sangat indah, tegang, sedih. Aku lebih bisa merasakan suasananya sewaktu mbaca novel ketimbang melihat filmya. Dan juga cerita filmnya banyak yang berbeda dari apa yang ditulis oleh Stepheni Meyer. 

Lagi yang membuat ku kecewa adalah bagian endingnya. Endingnya waktu masa transformasinya Bella sudah hampir selesai matanya terbuka dan bola matanya berwarna merah menyala. Udah gitu doang????

Tapi lumayanlah mengobati rasa penasaran yang ada dikepalaku waktu mbaca novelnya. Emmm... kalau mau tau kisah lengkapnya filmnya bisa didownload disini... tapi untuk saat ini kayaknya kalau cari film yang kualitasnya bagus belum ada nih diinternet, jadi nikmati saja apa yang ada.

Untuk Breaking Dawn Part 2 akan rilis Insya Allah 16 November tahun depan. Dan di part yang kedua kita akan menemukan tokoh baru pemeran Renesmee yaitu Mackenzie Foy.

Mackenzie Foy a.k.a Renesmee Cullen

 
Kristen Stewart a.k.a Bella Cullen
dan
Mackenzie Foy a.k.a Renesmee Cullen
Uyee... semoga saja kita bisa menontonnya...
Amiiin

Saturday, December 3, 2011

Waiting For "Midnight Sun"

Hmmmm..... ada yang tahu apa midnight sun itu? Kalau diartiin jadi Bahasa Indonesia artinya Matahari Tengah Malam. Tapi bukan itu sebenarnya yang kumaksud. Lalu apa dong?

Midnight Sun adalah salah satu novel garapan Stephenie Meyer yang belum kelar. Masih dalam proses gitu...
Tahu kan siapa Stephenie Meyer itu? Masak nggak tahu? Itu lohhh penulis novel Twilight Saga, Newmoon, Eclipse, sama Breaking Dawn, yang filmnya laris banget dipasaran. Tahu kan? Oh ya ada juga novel The Host. Hmmm... sayang banget itu novel belum kubaca karena aku nggak punya, kalau mau pinjem, pinjem sapa? Mau beli, uangnya pastiii aja kepake sama hal lain. Huhhhh... padahal kata temen-temen ku yang udah pada baca, novelnya seru. 



Back to Midnight Sun. Ini nih... novel yang garapan Stephenie Meyer yang belum rampung. Sebenarnya midnight sun ini telah dibuat sejak beberapa tahun yang lalu. Tapi kemudian dia berhenti menulisnya tepatnya pada tanggal 28 Agustus 2008 karena pendistribusian yang ilegal di internet.

Tapi disitusnya dia mengatakan kalau dia menyelesaikan midnight sun pada waktu itu mungkin dia akan menulis bahwa James -vampir jahat yang memburu Bella- yang akan menang, dan itu tidak akan pas dengan novel Twilight yang telah terbit. 

Hmmm... aku sudah membaca 12 bab pada midnight sun yang entah akan dirilis atau tidak. Dan kurasa itu cukup memberikan gambaran tentang Edward kepada Bella. Bener deh... so sweet banget waktu bacanya. Bagaimana Edward melihat Bella, tentang semua pengorbanannya untuk menahab terbakarnya tenggorokannya saat menghirup aroma tubuh Bella yang menurutnya sangat harum, tentang frustasinya Edward karena tidak bisa membaca apa yang Bella pikirkan. Hmmm... seru banget bacanya. Yah aku harap Midnight Sun ini benar-benar akan rilis suatu hari nanti.

Karena jujur saja semua kegalauan Edward menurutku hampir sama dengan yang kurasakan hanya saja dalam konteks yang berbeda. Edward tidak berani berdekatan Bella-tapi toh akhirnya meraka jadi juga- karena ia tahu kalau dia melakukannya dia akan membahayakan nyawa Bella. Aku mengalami al yang sama tapi dalam konteks yang berbeda. hahhhh...

Pokoknya aku berharap Midnight Sun akan benar-benar rilis. SECEPATNYA.

Amiiinnn...
Kita tunggu saja