Wednesday, February 29, 2012

Tiba-tiba muncul

Nih... baru beberapa menit yang lalu. Si ibu minta di cariin desain rumah di mbah gugel. Jadi.. aku bukain deh ntu si mbah dan terbesit keinginan buat iseng-iseng liat gambar rumahnya di full house. Itu dah.. jadi kepingin banget punya rumah kayak disitu, Rumahnya yang jauh dari keramaian, luas, dan di belakangnya terhampar luasnya danau yang masih bersih, masih bagus.. jadi pingin banget punya rumah kayak gitu. Pingin punya tempat yang nyaman buat ngabisin waktu bareng keluarga.

Waktu aku bukain ntu gambar rumahnya si Han Burung ibu bilang.. lah malah kayak kamar jenazah.. dan aku bilang ngek.. dari mana? Lah itu jendelanya bentuknya setengah lingkaran, kan simbolnya kamar jenazah ntu. Waduh,, si ibuk ini ada-ada aja..

ini lagi yang buat nyesek.. si Ibuk juga bilang,, ya kalau mau punya rumah kayak gitu, bikin sendiri, cari uang yang banyak.. dan aku jadi berpikir.. Lah.. emang uang kayak daun tinggal petik aja.Dan juga kalau emang bakal kesampaian emang masih ada danau yang airnya tenang, jernihm terus viewnya bagus kayak di full house itu? Tapi juga ntar kalau tahu-tahu airnya meluap terus kebanjiran kepriye no?

hmmm.. mungkin nggak ya, suatu hari nanti bisa punya rumah kayak gitu? Kalau liat gambarnya rasanya damaiiii gitu.. nggak tahu kenapa? Mau tahu kayak apa rumahnya??? ni gambarnya...

  ntu jendela setengah lingkaran yang dibilang ibu kayak kamar jenazah...



Bagai punguk merindukan bulan nggak sih.. ngarepin sesuatu yang sia-sia gitu... tapi apa salahnya sih bermimpi. Bukannya kenyataan itu berawal dai mimpi juga?

Thursday, February 16, 2012

Transformasi dari Komputer ke Psikologi atau Sastra

Waduhh... terbesit dalam benak saya bahwa Apa yang saya dapat setelah 3 tahun sekolah di STM? Dan saya dengan tegas mengatakan nggak tahu, geje sekali ini. Ketika saya menanyakannya kepada teman-teman yang lain, mereka pun menjawab hal demikian. Ya Tuhan berarti tidak cuma saya yang merasakan hal seperti itu. Kalau begini terus Mau jadi Apa besok kemu, Nak???? Itu yang selalu aku tanyakan pada diriku sendiri. Gimana nggak... disekolah khususnya pelajaran Produktif gurunya cuma bilang.. Sekarang materinya mendesain keamanan jaringan, silahkan cari materinya diinternet. Selalu begituuu, percuma dong kita bayar SPP mahal. Mending kuliah sekalian deh...

Tiga tahun sekolah di STM membuat saya berpikir bahwa saya memag tidak cocol jadi orang teknik. Mulai dari situ aku mulai berfikir untuk melakukan inovasi terhadap kehidupan. Dulu aku berpikir habis sekolah pingin kerja dulu ah, ntar kuliahnya bisa di sambi, tapi semakin kesini justru malah pingin kuliah, apalagi tahun 2013, tahun dimana aku lulus, seleksi masuk universitasnya juga ikut-ikutan pake NEM, katanya.... jadi kalau besok lulus aku nggak langsung daftar kuliah, bisa-bisa dapetnya universitas swasta, itu kalau beruntung juga, tapi kalau malah nggak bisa kuliah sama sekali? Gawat ... 

Trus sekarang ini saya lagi sibuk berpikir, mau ambil program apa untuk kuliah, alhasil aku memikirkan tentang tiga program, psikologi, Sastra Indonesia, atau Ilmu Hubungan Internasional. Awalnya cuma kepikiran tentang psikologi sama sastra indonesia, tapi denger ibu cerita kalau kuliah di HI bisa kerja diluar juga, jadi ikut dipertimbangkan deh...

Bahkan sempet kepikiran juga buat ambil di Aussy. Tapi melihat faktor biayanya yang wow, mesti mikir seribu sampe jutaan kali. Apalagi disana ntar cuma sendiri juga. Harus dewasa dan bijaksana ini buat nentuin mau masuk mana dan apa, biar ilmunya bisa kepake buat cari nafkah dan berguna buat masyarakat, bangsa, dan negara tercinta. 

Keep Fighting!!!




 

Wednesday, February 15, 2012

Bagaimana Kabar Tugas Akhir VB 6.0 saya???

Jeng jeng... Hari kamis minggu kemarin, Pak Ugi' - guru yang ngajar SD VB 6.0 - bilang..
wes rampunggg.. nggarek nggarap sing program toko buku. Dinggo tugas akhir, yo.. wektune 2 minggu. 

Dengan santai kayak di pantai beliau ngumymin tugas akhir itu. Waduhhh GUBRAK... gimana tuh.. Pertama kali dapet tugas itu aku optimis bisa ngerjain, terus seraching si si pakdhe google dapet buku bagus buat ntu tugas, eh sudah seribu toko buku ( ALAY emang Jogja ada seribu toko buku???) aku kelilingin, ntu bagu kagak ketemu. Cari buku yang serupa juga udah indak ado. Tanya sama petugas toko bukunya katanya kalau buku komputer terbitnya cuma sekali, dan ntu buku terbit tahun 2009 dan sekarang udah tahun 2012. Jadinya sekarang bingung gimana mau ngerjainnya. Jadinya malah pesimis sekarang...

Tapi pokoknya ntu tugas harus selesai tepat pada waktunya. Butuh tutor ini buat bantuin, siapa yang mau...??????? 

Tuhanku...
Dengarkan jeritan hati siswa SMK yang sedang GALAU memikirkan tugas akhirnya
Kirimkanlah seorang tutor untuk membantunya menyelesaikan tugasnya 
Kalau tidak berikanlah ia dapat menemukan buku yang ia cari

Tuhanku...
Kabulkan do'a ku..

Amiiin

Sunday, February 12, 2012

Sunshine Becomes You

Hahaii Ini dia buku ke-5 Ilana Tan setelah tetralogi 4 musim. Liat sampulnya aja udah buat aku pingin baca. Tapi mesti nahan diri dulu nih buat nggak beli. Secara UAN udah deket, mesti belajar rajin nih... Tak apalah, setelah UNAS bakalan punya waku luang banyakkkk banget buat baca banyak novel.





“Walaupun tidak ada hal lain di dunia ini yang bisa kaupercayai, percayalah bahwa aku mencintaimu. Sepenuh hatiku.”


ini ada cuplikannya...

”Oh, celaka!” Mia terkesiap kaget ketika mengeluarkan ponsel dari tasnya. Alex Hirano sudah mencoba menghubunginya berkali-kali, tetapi Mia tidak menyadarinya karena ponselnya berada di dalam tasnya yang ditinggalkan di kursi penonton. Ia bergegas mengenakan celana jins dan sepatu, lalu berpamitan kepada guru tarinya.

Laki-laki itu pasti marah besar, pikir Mia cemas dan cepat-cepat menelepon Alex Hirano. Mia berlari-lari kecil menyusuri koridor di antara deretan kursi penonton ke arah pintu keluar.

Pada deringan kedua, suara Alex Hirano pun terdengar di ujung sana. ”Clark? Kenapa kau tidak menjawab teleponku?”

Mia mengernyit. ”Maaf,” katanya cepat. ”Aku tidak mendengar bunyi telepon.”

”Apakah kau tahu sudah berapa lama aku menunggu?”

”Maaf,” ulang Mia. ”Kau ada di mana sekarang? Aku akan segera ke sana.”

”Berhenti,” kata Alex Hirano tiba-tiba.

Mia otomatis berhenti melangkah walaupun ia tidak mengerti apa yang dimaksud laki-laki itu. ”Apa?”

”Ya, berhenti seperti itu,” kata Alex. ”Sekarang berputar ke kiri.”

Mia menuruti kata-kata Alex Hirano.

Dan mata Mia melebar kaget ketika melihat Alex Hirano duduk beberapa kursi jauhnya dari tempatnya berdiri. Laki-laki itu tersenyum kecil kepadanya sambil menurunkan ponsel dari telinga.

Mia mengerjap heran. Pertama, karena Alex Hirano tersenyum. Laki-laki itu belum pernah tersenyum kepadanya selama Mia mengenalnya. Alex memang sering tersenyum hambar dan sinis, tetapi itu tidak bisa dihitung sebagai ”senyuman”, bukan? Kedua, karena Alex Hirano ada di sana. Mia tidak tahu mana yang lebih mengherankan baginya.

”Kenapa kau bisa ada di sini?” tanya Mia sambil menoleh ke kiri dan ke kanan, seolah-olah mencari seseorang yang bisa menjelaskan kenapa Alex Hirano ada di sana, lalu kembali menatap laki-laki itu. ”Sudah berapa lama kau di sini?”

Alex Hirano memasukkan ponselnya ke saku celana dan berkata ringan, ”Omong-omong, kau sudah boleh menurunkan ponselmu.”

Mia tersentak dan menyadari ponselnya masih ditempelkan ke telinga. Ia buru-buru memasukkannya kembali ke dalam tas. Ia baru ingin mengulangi pertanyaannya ketika Alex menyelanya.

”Jadi itu yang dinamakan tari kontemporer,” gumam Alex sambil memandang ke arah panggung, tempat para penari sibuk berlatih.

Mia tidak tahu apakah Alex Hirano sedang membicarakannya atau para penari di panggung itu. Apakah laki-laki itu melihatnya menari tadi?

”Aku tidak menyangka kau mendengarkan lagu-lagu Italia,” lanjut Alex sambil kembali menoleh ke arah Mia.

Oh ya, laki-laki itu sudah ada di sini ketika Mia menari tadi.

Mia mengangkat bahu dan membalas, ”Aku bahkan tidak menyangka kau tahu lagu itu lagu Italia.”

Alex Hirano menatap Mia dengan mata disipitkan, tetapi kali ini Mia tidak merasa ingin mundur teratur. Tatapan Alex kali ini bukan tatapan dingin dan bermusuhan. Dan omong omong, Alex juga tidak marah-marah karena tidak bisa menghubungi Mia dan terpaksa harus menunggu. Mengherankan sekali.

”Aku ini musisi,” sahut Alex dengan sebersit nada angkuh dalam suaranya. ”Tentu saja aku tahu semua jenis lagu dan musik.”

Mia ingin membalas bahwa bukan musisi saja yang perlu tahu tentang musik. Penari juga perlu. Tetapi saat itu Alex berdiri dari tempat duduknya dan melangkah keluar dari deretan kursi penonton, jadi Mia mengurungkan niatnya dan menyingkir sedikit untuk memberi jalan.

Alex keluar dari teater dan Mia mengikutinya dari belakang. ”Jadi kau sudah bertemu dengan gurumu?” tanya Mia berbasa-basi sambil mengenakan jaket luarnya.

Alex mengangguk. ”Sudah.”

”Gurumu masih ingat padamu?”

”Tentu saja,” sahut Alex dengan nada tersinggung, seolah-olah semua orang di Juilliard pasti tahu siapa dirinya.

Mia tidak berkomentar.

Alex ragu sejenak, lalu akhirnya bertanya, ”Yang tadi itu guru tarimu?”

Mia melirik Alex. Sungguh, laki-laki itu agak berbeda hari ini. Ia mengajaknya mengobrol, padahal biasanya ia hanya akan bicara dengan kalimat pendek dan seperlunya. Sepertinya suasana hati Alex Hirano sedang baik hari ini.

”Ya,” sahut Mia singkat. ”Salah satunya.”

”Dia sangat memujimu tadi.”

”Benarkah?” gumam Mia sambil lalu.

Alex menoleh menatapnya. ”Katanya kau salah satu penari terbaiknya.”

”Oh ya?” Mia mengangkat bahu. ”Banyak penari lain yang lebih baik dariku. Omong-omong, kau mau pergi ke mana sekarang? Pulang? Bagaimana kalau kau tunggu di pintu depan dan aku akan pergi mengambil mobil…”

Alex menggeleng dan menyela, ”Aku belum ingin pulang.”

”Oh? Lalu kau mau pergi ke mana?”

Alex berpikir sejenak. Lalu sekali lagi seulas senyum samar tersungging di bibirnya dan ia berkata, ”Toko musik.”


Hmmm.... bikin penasaran aja. Moga ada ya... yang mau beliin aku ni novel, abis lumayan juga nih harganya!
Amiin ^.^

Have fun with it....

4 alasan kenapa aku pingin banget PKL di luar Jogja

1.Aku muak tinggal di rumah

 Aku muak tinggal dirumah, setiap hari aja ada masalah yang terjadi, meskipun penyebabnya sepele. Barang-barang dirumah banyak yang nggak selamet kalau si kakak lagi marah besar. Alasannya tak lain dan tak bukan karena si Bapak yang sukanya bikin gara-gara. Aku capek menghadapi itu semua setiap hari.

2. Pingin banget ngrasain mudik yang SEBENARNYA

Idhul fitri kemarin aku baca status-status kakak kelasku yang kayaknya happy banget bisa pulang kampung setelah berbulan-bulan nggak ketemu keluarga karena lagi cari ilmu alias PKL di luar kota. Dari situ rasanya pingin banget bisa ngrasain yang namanya mudik yang bener-bener mudik.

3.  Pingin belajar MANDIRI

Disini MANDIRI yang kumaksud bukan Mandi Sendiri tapi, benar-bener belajar buat nggak tergantung terus sama orang tua, tapi bukan berarti lepas sepenuhnya. Hanya mencoba untuk tidak terlalu tergantung sama keluarga. Masak sendiri, cuci sendiri, nyetrika sendiri, bangun pagi sendiri, pokoknya serba sendiri.

4. Pingin Tahu perasaan si dia gimana kalau aku nggak ada


Si dia itu orangnya cuek minta ampuuuunnn kalau sama aku.Nggak tahu kenapa. Aku cuma mau tau gimana rasanya tinggal jauh dari dia, Bakalan berbeda nggak ya? Terus apakah dia juga bakalan tetep cuek kalau kita udah nggak bisa ketemu. Childish banget sebenernya, Tapi lama-lama aku jenuh juga dicuekin dia melulu. 
 

Friday, February 10, 2012

What the....

 His status!!!

Does Because of this???



I don't even remember writing it!!!

Aku ...


           Aku bukanlah dia...
           Akupun bukan mereka...
           Tapi aku adalah aku, tak peduli apa yang mereka katakan. Aku berbeda dari dia, jika dia begitu maka aku begini. Aku tidaklah sama dengan mereka, kalau mereka ingin yang itu maka yang aku inginkan adalah ini. Aku mensyukuri semua yang aku punyai sekarang, termasuk luka ini. Luka yang telah menyayat hatiku terlalu dalam bahkan telah membuatnya mati rasa.
          Setiap detik perputaran jarum jam yang terjadi, memberikan satu perubahan yang berbeda. Entah itu perubahan kecil ataupun besar. Aku yang saat ini bukanlah aku yang dahulu. Aku yang saat ini berbeda dengan aku esok lusa, atau aku esok yang akan datang.
         Aku mencintai apa yang ada disekitarku. Aku mencintai Ibuku, Adikku, Kakakku, temanku, dan aku mencintai hidupku, meski terkadang hidupku tak seindah hidupnya, dan hidup mereka. Aku menyukai udara yang membuatku tetap bernafas, aku menyukai hujan yang memberikan kehidupan, aku menyukai matahari yang bersinar di pagi hari. karena Itu semua memberikanku kedamaian.