Monday, October 23, 2017

About Marriage

Yahh...  It is already 23rd of October. It means that I've officially became a wife of Mr. Rizqi Hasanuddin. Despite from what I've been through before the marriage now I am simply grateful for everything I have. I feel glad that I keep what I decided to got married.

It is challenging. I can say that I am "anak mami" then suddenly I become a wife and I have to stay far from my mam. I've to learn everything. Cooking, cleaning, washing. Surprisingly I can do that. Even I amaze with my self. I do enjoy doing that sometimes.

I know a month doesn't mean anything because there are still years ahead. We do not know what we'll face. Challenges??? Of course. Test??? It will.

However, whatever it is I pray that we can face it together. Happy, sad, laughing or crying. I am grateful because now I have shoulders to lean and hands which wipes my tears away when I cry. And trust me, I'll do the same. My shoulders will always free for you to lean. So do my hands.

I pray that He will always give His blessings for us, give us kebarokahan for everything. Dan apapun yang kita sentuh menjadi maisyah yang barokah untuk kita. Dan yang terpenting kita selalu ditetapkan dalam hidayahNya dan kelak akan dipersatukan kembali di surgaNya. Aamiin

I can't promise you I will be perfect wife but you have to know that I'll try as hard as possible to become a good wife and a good mother. Inshaa Allah

Thursday, September 21, 2017

Berdamai dengan Hati

Gosh!!! It is already September 21. In this second I am still asking about my decision.  Still feeling unsure. Have I made a right choice???

Friday, September 8, 2017

Perihal Melepaskan

Kepada mimpi yang masih ingin diperjuangkan...

Sampai detik ini aku belum dapat memastikan sampai batas mana aku diperbolehkan untuk memeluk mimpi itu, tapi sungguh aku masih sangat ingin untuk memperjuangkan nya hingga pada akhirnya ketika mimpi itu memang tidak berhak ku miliki, aku berdo'a agar Ia memberikan keikhlasan untuk melepaskan dan mengganti dengan yang lebih baik sehingga aku tidak akan menyesal karena telah mengabaikannya.

Sampai detik ini, air mata yang telah jarang menetes, memberontak menetes tanpa meminta izin terlebih dahulu setiap mengingat bahwa aku harus mengikhlaskannya. Kurasa memang Tuhan tidak menginginkan aku untuk menjadi tamak karena menginginkan banyak hal termasuk mimpi-mimpi itu untukku.

Pada akhirnya, dimanapun itu dan apapun itu selagi Ia menjagaku tetap didalam jalanNya, aku akan ikhlas melepaskan dan tetap bersyukur. Bukankah itu yang terpenting, masuk kedalam surgaNya.

Saturday, August 19, 2017

Doubt

Until now, to be honest i still have not sure for my decision. Many questions come to my brain and ruin my mind. They just come suddenly while i have been decided. Am I ready to start over thing? Do I want to share my worst, my weaknesses? Is it you the one who I want to spend the rest of my life with?? And Am I the best one for you??? 

Saturday, July 29, 2017

Cerita Pribadi : Desparate Graduater

Hemmm...  It's 3 months already since my graduation. And for that time i feel like i become useless human. Ibaratnya cuman tiap hari makan tidur makan tidur dan ngabisin duit aja. Kayak bosen nglakuin hal yang sama tiap hari tapi nggak guna. Dulu waktu awal2 lulus masih cukup sering ngasistenin dosen. So at least i have something to do gitu walaupun akhirnya nggak terima uang jajan dari dosen.. Entah karena si bapak lupa ngasih atau emang yang sekarang ini nggak berhonor kayak semester kemarin. Yah..  Emang si bapak dosen sih yang bantuin supaya dapet penghargaan Karya Cendekia waktu wisuda kemarin. Anggap saja impas lah ...

So..  Di Bulan yang ke-3 ini makin ngrasa desperate karena pingin beli ini itu nglakuin ini itu tapi tabungan sudah terkuras dan nggak bisa nabung lagi. Nggak mau minta uang lebih sama orang tua karena nggak enak dan aku tau diri.

I've applying some jobs but there isn't any company who wants to hire me yet. Dua kali dapet panggilan test dua kali juga gagal di tahap awal. Kecewa????  Sedikit... Tapi yahh yang namanya belum rejekinya. Jadi ya diterima dan tetep harus berdo'a toh... Lagi pula menurutku aku ni kayak nggak niat kerja gitu, pinginnya doing something at home but still earning money. Tapi yah bingung lagi mau bisnis apa terus gimana. Sudah mempertimbangkan beberapa hal, tapi pikiran malah jadi bruwet lagi karena ada satu hal yang jadi ganjelan.

Kepikiran banget umur segini, tapi masih belum tau mau ngapain. Mikir lanjut sekolah tapi pinginnya overseas dan bisa dapet beasiswa. Kadang suka ngiri sama anak2 seumuran atau bahkan yang lebih muda yang mereka udah tau pashion mereka apa, yang mereka kepingin lakukan itu apa. Huhuhu...  Sudah sering sih ngobrol ke diri sendiri tapi masih belum dapet jawabannya. Curhat ke temen sarannya kadang nggak srek sama hati.

Mungkin aku kurang do'a kali ya. Dan benar2 harus berani buat mencoba.. 

Sunday, June 18, 2017

Beropini : Marriage? Is it a Social Pressure?

Sedikit cerita..  Jadi selama dua mingguan ini ceritanya aku lagi di Kediri karena ada hal yang mau dilakuin. Dan selama dua minggu ini aku ngikos disalah satu rumah kenalan ku dulu. So far selama dua minggu everything was fine.

Rencana balik ke Jogja jadinya tanggal 20 Juni 2017 dan sudah book tiket untuk tgl itu. Kemarin malam iseng cek salah satu website kantor tempat aku apply job dua bulan lalu. Dan memang aku sedikit banyak bisa diterima. Dan alhamdulillah kemarin nama aku masuk ke daftar seleksi yes tgl 19 Juni besok which is aku harus cari ticket lagi sebelum tanggal itu. Dan besok Inshaa Allah aku balik dari sini. Dan beberapa jam lalu aku pamit ke Ibu Kosnya. Aku bilang besok mau pulang karena mau ada tes kerja. Percakapan justru jadi agak panjang dan berujung nggak enak di aku yang sekarang ini lagi iyuh banget gegara pertanyaan si ibuk.

Awalnya dia nanya yang ringan2 aja sih..  Dia nggak tau ternyata sebelumnya kalau aku udah lulus alias SARJANA. Sampe tanya umur dan kepikiran nikah atau nggak. Eng ing engg... That's so ridiculous  question menurutku. What kind of women who does not think about marriage???  Especially for me. I am a visioner. I have been thinking about that since long ago even thinking about how I raise my children...  Mungkin sebagian orang mikir ini pertanyaan biasa dan memang ini pertanyaan biasa. Tapi yang jadi nggak ngenakin adalah buat si ibuk, kok iyuh banget diumurku saat ini kelakulan aku masih kayak anak lulus SMA (ditempat aku kos ini banyak anak SMA juga soalnya) dan aku enjoy aja sih ngobrol, maen bareng mereka. Sampe2 dia ngasih contoh salah satu kenalan kits juga yang juga belum nikah2 in her latest twenties. Lebih tepatnya dia ngomong ntar ndak kayak mbak itu...  I know that "mbak" good enough. Aku tahu gimana sedih dan kepikirannya mbak itu sama masalah ini. Dan bukannya nggak mikirin dan sejujurnya pun takut kalau aku sampai mengalaminya juga tapi kalau Allah belum mempertemukan ya gimana. Kitanya udah do'a,  udah berusaha.. Kalau yang Maha Mempertemukan aja belum ngijinin kita bisa apa?? Masak iya harus ke dukun... My point here is, kenapa menikah itu jadi hanya kayak social pressure yang harus di lakukan supaya nggak jadi nyinyiran orang. That's not impolite question I think. Aku ingin menikah bukan hanya karena social pressure saja tapi benar-benar aku ingin menjaga agamaku, dan kelak bareng2 sama suamiku berusaha dapet surgaNya.

Dan yang lebih menohok, si ibuk Tanya seluk beluk masalah yang dulu pernah dialamin keluarga aku which is I rarely tell it to others. Dan aku memang nggak nyaman buat ceritain ke siapaoub. Tapi karena dia memang tau ceritanya ya masak aku ngarang cerita..  Ahh pokoknya malem ini the worst lah. So, ini jadi pelajaran buat aku juga supaya benar2 mikir dulu sebelum ngomong atau Tanya ke orang. Apa pertanyaan atau omongan itu bakal bikin sakit hati yang dijak omong atau nggak. Hukum kamu akan menuai apa yang kamu tanam itu berlaku. Jadi kalau nggak mau disakitin ya jangan nyakitin orang. Hahh spam an tengah malam di malam puasa ke-23. Syediih karena lagi dapet nggak bisa ikutan i'tikafan...  Dan malah nggalau aja di kamar kosan..

Sudahlahh...  Lanjut packing aja.
Bye...

Wednesday, May 31, 2017

Beropini : Visioner

Menurut KBBI visioner adalah orang-orang yang mempunyai khayalan atau wawasan ke depan.

Menurutku, aku adalah orang bertipe ini. Just for your information, aku sudah memiliki beberapa rencana untuk tahun-tahun kedepan. Tahun 2018 mau ngapain, terus 2019 mau dimana, 2020, dan seterusnya. Dan tentu saja aku sudah berpikir bagaimana cara mewujudkannya.

Well, bukan hal yang mudah menjadi seorang visioner karena kita harus bisa multitasking supaya semua bisa berjalan sesuai rencana. Dan dalam kasusku hal itu menjadi semakin sulit because when your plans don't work as you wish, you'll absolutely feel stressed. You'll think why, why, and why. Mengapa itu tidak bekerja? Apa yang salah? bagaimana harus memperbaikinya???  Capek juga kadang mikir begituan...

Kebanyakan temenku, mereka lebih memilih untuk menjalani satu demi satu. Once, I asked my friend what would she do after graduate. Then she said, that she won't think it yet and just focuses on her thesis. Beda sama aku, dari awal masuk kuliah aja mikirnya kayaknya udah jauhhhhhh banget. Udah mikir semester ini harus ngapain aja, bikin target ini itu, lulus mau ngapain. Well, yang terakhir ini yang sangat bikin frustasi yah karena sekarang udah lulus frustasinya tambah-tambah...

Buat aku yang seorang visioner, untuk punya planning kedepan itu penting banget. Buat ku rencana-rencana itu menjadi semacam guide..  What I am supposed to do and how I can make it work. Dan itu sangat membantu. Ya, meski beberapa dari planning itu Ada yang nggak berjalan. Stress sih, tapi aku tetep percaya bahwa Allah gives what we need not what we want. And all of His done is the best. Tapi, diluar planning itu aku tetap terbuka dengan kejutan atau kesempatan lain yang datang.

Nah, itu oponiku mengenai visioner.

And thanks to you who has read my blog.
Bye..

@nnurhafidhah