Satu
Waktu telah menunjukkan pukul 05.30 pagi. Sudah saatnya untuk Vian untuk bangun dari tidurnya dan segera nenunaikan sholat subuh berjama'ah dengan keluarganya.Tapi udara dingin menyelimuti kota Yogyakarta pagi ini, membuat semua orang malas untuk bangun dan justru menarik selimutnya semaikn rapat. Begitu juga dengn Vian. Bukannya bangun malah semaikn merapatkan selimutnya. Apalagi semalam ia tidur larut malam karena harus mengerjakan tugas yang sangat banyak. Baru saja akan memejamkan mata lagi, terdengar suara ketukan pintu dan seseorang yang memanggil-manggil nama Vian.
"Vian….! Ayo bangun, Nak! Sholat subuh dulu, udah ditungguin!" suara seorang wanita setengah baya yang tidak lain dan tidak bukan adalah Bundanya Vian.
"Iya, Bunda…! Tunggu sebentar!" jawab Vian sambil bangun dari tidurnya dan mengumpulkan seluruh kesadarannya.
"Cepetan ya!" kata Bunda Vian sambil melangkahkan kakiknya hendak pergi ke salah satu ruang di rumah itu yang digunakan sebagai mushola keluarga.
Begitu seluruh kesadarannya terkumpul, Vian segera melangkahkan kakinya ke Kamar Mandi untuk cuci muka dan berwudhu. Setelah selesai Vian mengenakan mukenanya dan langsung menuju ke mushola.
Kalian pasti mengira bahwa Vian adalah seorang cowok bukan? Sebenarnya nama panjang Vian adalah Umayra Novianda Tazqiya Putri dan dulu ia biasanya dipanggil Vianda tapi karena terlalu ribet jadinya malah dipanggil Vian. Bunda Vian sempet protes nama bagus-bagus Vianda malah diganti-ganti, ehh tapi sekarang Bundanya juga ikut-ikutan panggil Vian. Walah walah….
Cukup soal nama dan kembali ke cerita…..
Sesampainya di Mushola Ayah, Bunda, dan Mbak Kian sudah menunggu.
"Hehehe….. Maaf, maaf!" hanya itu yang bisa diucapkannya begitu melihat wajah Mbak Kian yang sepertinya sudah tertekuk-tekuk.
"Ya udah ayo sekarang kita sholat." kata Ayah.
Sholat pun dimulai. Butuh kira-kira lima belas menit untuk sholat dua roka'at, dzikir, dan berdo'a. Sama seperi kegiatan Vian sehari-hari, begitu selesai sholat Vian membuka Al'quran nya dan membaca beberapa ayat. Ini sudah menjadi kebiasaan Vian karena jika tidak membaca satu ayat saja hatinya belum tenang. Setelah itu Vian kembali ke kamarnya untuk membereskan tempat tidurnya dan menyiapkan semua buku-buku pelajaran hari itu, lalu membantu Bunda menyiapkan sarapan, lalu mandi, sarapan, dan berangkat sekolah. Hampir selalu seperti itu kegiatan Vian setiap harinya, tapi kalau hari libur setelah membaca Al'quran Vian sempatkan untuk jogging mengelilingi kompleks rumahnya.
"Mbak Kian…. Cepetan!" teriak Vian memanggil-manggil kakaknya itu.
"Iya-iya, ayo berangkat!" balas Mbak Kian yang tau-tau udah nongol dari belakang.
"Vian berangkat dulu, Bunda Ayah!" kata Vian sambil mencium tangan Bunda dan Ayahnya.
"Kian juga ya!
"Assalamualikum." Kata Vian dan Mbak Kian serentak.
Vian memang selalu berangkat sekolah bareng sama Mbak Kian, karena kampus Mbak Kian memang searah dengan Vian, jadi dari pada boros ongkos dan boros bensin Vian selalu berangkat bareng Mbak Kian.
Sesampainya di sekolah, Vian langsung menuju kelas 11 IPA 1 dan begitu sampai Vian langsung duduk di bangkunya. Karena masih ada waktu sekitar sepuluh menit sebelum bel berbunyi Vian mengisi waktunya dengan membaca novel yang dibelinya satu bulan lalu tapi baru sempat membaca beberapa halaman saja. Selain membaca Alqur'an Vian juga doyan mbaca novel, kalau udah serius mbaca nggak bisa di ganggu gugat. Oh.. ya Vian juga suka nulis lho… ya gara-gara hobinya yang mbaca novel sampe keterusan jadi hobi nulis.
Novel yang sedang di bacanya sekarang adalah Autumn in Parisnya Ilana Tan. Vian memang suka dengan novel yang sedikit romantis tapi kalau romantisnya udah kebangetan ya malah bikin eneg.
Ketika dia sampai di bagian ketika Tara Dupont berkenalan dengan Tatsuya Fujisawa, tiba-tiba dia dikagetkan dengan kedatangan Aliya –teman sebangku sekaligus sahabatnya- yang dateng-dateng langsung membanting tasnya di mejanya.
"Ahhh…. Alvin nyebelin." kata Aliya dengan muka yang mirip kepiting rebus.
"Kamu tuh kenapa tho, Al.pagi-pagi kok udah kesetanan kayak gitu." Vian menanggapi.
"Biasa Alvin bikin kesel melulu kerjaannya."
"Kalau aku boleh tebak, pasti batalin janji lagi kan?
"Katanya ntar sore dia mau latihan basket lagi, basket basket basket terus pikirannya."
"Maklum lah, namanya juga kapten basket, ya pikirannya besket terus. Kalau kapten chers ya pikirannya chers terus juga."
Vian lega karena akhirnya bel tanda masuk berbunyi, dan itu artinya ia tidak harus mendengarkan keluhan Aliya tentang Alvin –cowoknya- yang selalu mbatalin janji.
"Ahh ribet banget sih punya cowok." kata Vian dalam hati.
Selama ini Vian memang belum pernah punya cowok. Dia selalu menganggap kalau punya cowok itu Cuma bikin ribet dan lagi pula Vian pasti tidak diizinkan oleh Ayah Bundanya buat punya cowok.Itu semua karena Vian dibesarkan ditengah-tengah keluarga yang disiplin agamanya tinngi. Dari kecil ia sudah diajarkan bahwa ketika kita sudah baligh kita harus selalu menutup aurat kita dan sesama orang yang bukan muhrim itu tidak boleh saling bersentuhan apalagi sampai pacaran.
Tapi dibalik itu semua kalian tahu, sebenarnya terkadang Vian juga iri dengan temannya yang selalu diperhatikan sama cowoknya, tapi selalu saja Vian mengingatkan dirinya bahwa itu dilarang.
Sepanjang pelajaran pagi itu Vian jadi tidak bisa berkonsentrasi, ia malah teringat pada teman masa kecilnya tepatnya temen se TPA yang dulu ketahuan suka sama Vian, ya gara-gara sepupunya ngomong ke Vian. Semenjak saat itu Vian selalu di ledekkin teman-temannya. Dan Vian jadi kesel gara-gara masalah itu. Tapi ketika Vian sudah mulai beranjak sedikit lebih dewasa tepatnya ketika ia sudah kelas dua SMP, dia mulai merasakan sesuatu yang lain, sesuatu yang berbeda dengan yang sebelumnya, kalau sebelumnya ia selalu kesel kalau di panggil-panggil dengan nama Azzam –nama temen masa kecilnya itu- tapi sekarang ia malah suka banget kalau dipanggil dengan nama itu. Ya, itu semua gara-gara Azzam suka sms in Vian, tanya lagi ngapain lah, udah makan belum. Mulanya Vian males juga nanggepin sms-sms itu, tapi lama-lama Vian suka juga dengan perhatian yang diberikan oleh Azzam. Tapi tiga tahun yang lalu Azzam dan keluarganya pindah ke Bandung karena ayahnya dipindahtugaskan ke kota Kembang. Semenjak saat itu Vian lost contact dengan Azzam, sekarang dia nggak tahu dimana Azzam tinggal sekarang, bagaimana kabarnya, seperti apa dia sekarang.
"Yeeeeeeeee…….."suara teriakkan membahana dalam kelas
Mendengarnya sontak Vian kaget dan tersadar dari lamunannya.
"Aliya, kenapa pada teriak sih?" tanya Vian kepada Aliya.
"Jadi, dari tadi kamu nggak ndengerin. Kemane aje mbak?"jawab Aliya.
"Ya, disini dari tadi. Eh, Kenapa tho pada ribut?"
"Hari ini, sehabis istirahat kita boleh pulang karena semua guru mau rapat."
"Ohhh"
Hanya kata "ohhh" yan bisa dikatakan Vian. Di lain sisi Aliya jadi bingung dengan sikap Vian hari ini, biasanya dia seneng-seneng aja tuh kalau sekolah pulang cepet.
Yahh… masak Vian jadi berubah sikap gara-gara Azzam aja sih.
"Vi… kamu mau langsung pulang?" tanya Aliya dari belakang.
"Hmmm… Capek. Duluan yaaaa!"
Tanpa banyak bicara lagi, Vian kembali melangkahkan kakinya dan sambil terus berjalan Vian mengeluarkan HP dari dalam tasnya lalu mulai menekan-nekan tombol HPnya. Rupanya Vian mengirim SMS untuk Mbak Kian, meberitahukan bahwa ia pulang lebih cepat. Setelah kata "Pesan Terkirim" muncul di Layar HPnya ia memasukkan HPnya ke dalam tas lagi. Kemudian langkah kakinya terhenti di depan sekolah untuk menunggu bis.
"Hah, kenapa aku jadi kepikiran dia terus sih?" gerutunya dalam hati.
Wah parah ini, Vian teringat lagi dengan Azzam. Padahal Vian sudah berusaha untuk tidak mengingat-ingat lagi semua tentang Azzam. Butuh waktu lama bagi Vian untuk melakukannya.
Lama Vian asyik dengan pikirannya tentang Azzam, akhirnya bis berwarna orange dan bertuliskan angka 7 di depannya datang. Langsung saja Vian melangkahkan kakinya menaiki bis itu. Di dalam bis itu Vian duduk di tempat yang kosong. Pantas saja bis terlihat lengang saat itu, ya itu semua karena ini kan belum jam pulang sekolah. Baru beberapa meter jalan, bis berhenti. Rupanya ada seorang lagi yang naik. Karena penumpang itu masuk lewat pintu belakang, Vian tidak melihat siapa yang naik. Dari pada Vian mengingat Azzam terus lebih baik ia mengalihkan pikirannya dengan membaca. Dikeluarkannya Novel yang ia bawa dari tasnya dan mulai membacanya lembar demi lembar.
Baru juga berjalan sebentar, bis tiba-tiba berhenti lagi. Dan memang ada penumpang lagi yang naik. Vian mendongakkan kepalanya melihat siapa yang naik.
"Hei, Vian." kata penumpang yang baru masuk itu.
"Eh, Raka. " jawab Vian.
Raka adalah teman SMP Vian, sudah lama ia tidak bertemu dengan Raka. Lama mereka bercerita panjang lebar. Dan seperti reuni mereka bercerita tentang masa sekolah mereka di SMP. Lama mereka bercerita dan bercanda, Vian tidak sadar ternyata bis yang membawanya hampir sampai di Halte dekat rumahnya. Vian mengakhiri ceritanya dan berpamitan dengan Raka karena Raka baru akan turun di Halte selanjutnya.
Ketika turun dari Bis, Vian menyunggingkan senyum kepada Raka. Bis pun mulai berjalan pelan. Sambil melangkahkan kakinya Vian masih memandangi kepergian bis itu dan matanya melihat seseorang yang tidak asing lagi duduk di kursi paling belakang.
"Benarkah itu dia?" katanya dalam hati.
Sambil terus berjalan, Vian masih memikirkan orang yang duduk di kursi belakangnya.
"Ah, tidak. Mungkin hanya mirip." masih katanya dalam hati.
No comments:
Post a Comment