Tuesday, October 29, 2013

Kasih Ibu Sepanjang Jalan

I just sent my "short story about love" Heart2Heart. it's tell about love to someone not just to boy/girlfriend... and i tell about Mom. Mom someone who always beside me, you, and always be the best for us. So.. I hope altought this isn't win, but at least i can share to you about my mom. And i wish you can always love your Mom, here the story...


 

Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah. Sering sekali aku mendengar peribahasa ini. Menurutku peribahasa ini benar adanya. Bahwa kasih ibu, cinta ibu pada anak-anaknya memanglah besar yang diibaratkan seperti jalan yang panjang yang entah tak kan pernah kita tahu dimana ujungnya. Setiap pasangan yang menikah pasti ingin memiliki seorang anak. Dan ketika hal yang diharapkan telah dikabulkan Tuhan, maka air mata bahagia yang akan menetes dari pelupuk matanya.

Masa dimana si jabang bayi bertumbuh di dalam kandungannya menjadi momen yang menegangkan dan rasa ketidaksabaran menunggu saat si buah hati lahir di dunia dengan  sehat, selamat, dan sempurna. Si buah hati akan menjadi harta yang tak ternilai dan tak tergantikan. Rasa sakit, perih, luka sobek saat proses kelahiran buah hatinya ia tempuh agar makhluk kecilnya segera bisa menghirup udara dunia. Dan saat itu juga sang ibu berjanji untuk membesarkan anaknya sebaik mungkin, dengan tulus dan ikhlas, berjanji untuk memberikan apapun yang terbaik yang ia butuhkan bahkan mungkin nyawanya pun akan diberikannya. Begitu besar ketulusan seorang ibu mencintai buah hatinya. Setidaknya itu yang bisa aku terjemahkan ketika melihat seorang wanita yang baru melahirkan, ketika akhirnya ia bisa menggendong buah hati kecilnya.

Aku merasakan betapa besar cinta dan kasih Ibuku padaku dan kakak serta adikku. Beliau melahirkan tanpa ada bapak di sampingnya, merawat, membesarkan kami, memberikan segala yang kami butuhkan. Kasih sayang, pendidikan, hidup yang layak, kesehatan, tempat bernaung, banyak sekali. Tentu saja bapak juga begitu, tapi bagi seorang gadis yang baru akan menginjak dewasa sepertiku, Ibu mendapat peringkat diatas seorang ayah dalam hatinya. Bahkan dalam Hadist, Nabipun menasehati kita untuk menghormati seorang ibu terlebih dahulu baru setelah itu ayah kita. Ini salah satu bukti bahwa Nabi juga sangat memuliakan seorang ibu.

 Teringat kisah yang lalu ketika suatu saat aku menderita sakit hepatitis. Sebuah penyakit yang ringan tapi bisa juga merenggut nyawa bila tak diobati dengan serius. Saat itu ibu dan ayahku membawaku ke UGD karena dalam satu hari itu aku sama sekali tidak nafsu untuk makan apapun. Disana mereka menemaniku selalu berasa di sampingku, mata mereka tetap terjaga ditengah kelelahan mereka karena telah bekerja seharian. Menunggu hasil pemeriksaan sampai keluar dan itu membutuhkan waktu yang cukup panjang, bahkan sampai keesokan paginya. Ketika dokter menyuruhku untuk dirawat, aku menolak. Dan ibu mengiyakan apa mauku. Yang itu berarti beliau akan lebih lelah karena harus mengurus aku dan harus bekerja pula. Dan dalam masa penyembuhanku, Ibu selalu menemaniku untuk chek up ke dokter, membelikanku sebuah obat yang menurutku sangat mahal sekalipun agar aku segera sembuh. Sungguh aku bisa melihat kekhawatiran di matanya.

Dalam setiap langkah kaki yang kupijak akan ada nasehat ibu yang selalu aku jadikan pegangan dalam hidupku. Pilihanku untuk mengambil segala keputusan apapun  akan selalu tergantung pada saran yang Ibuku berikan. Bukan aku tidak bisa mengambil keputusanku sendiri, hanya saja aku meyakini bahwa setiap saran yang seorang Ibu berika kepada anaknya pastilah demi kebaikan anaknya. Meski ibu tetap menyerahkan segala keputusan akhir padaku.

Dalam setiap pertumbuhanku hingga saat ini, diusiaku yang sekarang ini selalu ada do’a ibu yang selalu menemani. Do’a yang dipanjatkan ibuku dalam setiap sholatnya, dalam setiap hembusan nafasnya, bahkan dalam setiap kedipan matanya  meski tak berucap aku tahu ibu mendo’akan segala yang terbaik. Tak hanya untukku, tapi juga untuk kakak serta adikku.

Beberapa bulan sebelum ini, aku banyak sekali merasakan kekecewaan, tiga kali mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi negeri dan semuanya gagal. Aku selelu mengeluh pada Ibuku, aku sudah belajar, bahkan gaji hasil magangku sebulan terakhir yang aku kumpulkan aku gunakan untuk membeli buku-buku untuk tes itu, berharap itu bisa membantu tapi ternyata tidak. Disaat seperti itupun Ibuku tidak pernah menyalahkan aku. Dan aku sangat berterima kasih kepadanya. Dia selalu ada memberiku semangat dan dorongan. Dari situ aku berusaha menerima dan ikhlas segala keputusan yang Tuhan buat untukku. Aku yakin ada maksud baik Tuhan dibalik segala keputusanNya untuk hambaNya.

Ibu akan selalu menjadi orang yang pertama kali memaafkan anaknya ketika anaknya melakukan kesalahan. Disaat aku mungkin entah dengan sengaja atau tidak berkata kasar pada Ibu, saat itu juga Ibu akan memaafkan aku tanpa aku meminta maaf terlebih dahulu. Aku tahu aku telah banyak sekali melukai hatinya, tapi beliau pun tak pernah mengungkit atau membahasnya.

Seorang Ibu juga akan dengan rela memberikan nyawanya jika diperlukan apabila itu berhubungan dengan buah hatinya. Aku memiliki seorang teman, ia pernah bercerita padaku. Beberapa tahun lalu di suatu sore yang berhujan, ia pergi ke rumah duka salah seorang kerabatnya bersama ayah dan ibunya. Dalam perjalanannya ia mendapat kecelakaan, dan pelaku kabur entah kemana. Ia dan ayahnya koma dan harus mendapatkan perawatan yang lebih intensif di rumah sakit yang lebih besar. Akhirnya ia yang berasal dari daerah Bengkulu harus dirawat di salah satu Rumah sakit di Kota Palembang. Satu setengah bulan ia tidak sadarkan diri, dalam waktunya itu Ibunya berdo’a kepada Tuhan. Dalam do’anya itu dia bertanya mengapa bukan ia yang berada di tempat anaknya. Ia dengan rela ingin menggantikan posisinya dengan anaknya. Tuhan mendengar do’a tulusnya dan Tuhan mengabulkan Tuhan. Kalian akan sangat terharu bila mendengarnya langsung dari temanku.

Jika kita membicarakan tentang ibu maka tidak akan pernah ada habisnya. Karena kasih ibu akan selalu ada untuk anaknya. Tidak hanya seorang manusia. Bahkan hewan pun akan sangat menyayangi anaknya.

Aku menyaksikan seekor kucing yang melahirkan keenam anaknya. Aku pun menyaksikan pertumbuhan keenam kucing kecil itu. Hingga saat ini mereka berumur satu bulan. Induk kucing itu setiap hari menyusui keenam anaknya, ia “memandikan” dan menjaga anaknya tanpa lelah. Suatu saat aku pernah mencoba mengambil salah seorang darinya si induk kucing marah seolah ia berkata jangan ambil anakku. Itu yang aku terjemahkan dalam bahasa “mengeongnya”. Dan ketika si anak sudah bertumbuh dan sedang sangat senang berjalan-jalan, sang induk dengan setia menemani, dan melindungi. Ketika anaknya hilang dari pandangannya ia akan segera mencari hingga menemukannya. Aku menyaksikan kasih seorang Ibu pada anak-anaknya. Bahkan seekor kucing sekalipun.

Tapi di suatu kondisi lain, aku terheran pula. Ketika menyaksikan sebuah berita tentang penemuan seorang bayi yang dibuang ibunya karena merupakan hasil hubungan yang tidak resmi. Mereka terkadang ditemukan dalam kardus, dibawah pohon, atau bahkan di dekat tong sampah. Miris sekali aku mendengarnya. Seorang bayi yang belum mempunyai dosa, yang bahkan belum mengenal kehidupan ini dibuang begitu saja. Entah apa yang dipikirkan sang ibu. Untuk apa meraka melahirkan anaknya jika mereka bahkan tidak menginginkan anaknya untuk tumbuh dan berkembang di dunia ini. Bukan berarti aku setuju dengan aborsi, tapi seharusnya dari awal mereka sadar dan bertanggung jawab dengan apa yang telah mereka lakukan. Karena bukan dengan cara seperti itu mereka menyelesaikan masalah mereka.

Pernahkan kalian melihat pengemis tua yang duduk di pinggir jalan ditemani seorang anak kecil? Aku sering sekali melihatnya. Ia duduk di antara kerumunan orang-orang yang sedang berbelanja di Pasar Minggu. Di depannya tertidur seorang anak perempuan yang menurutku belum sampai berumur 5 tahun. Entah itu anaknya atau mungkin ia hanya “meminjam”. Anak perempuan itu memiliki kepalanya yang besar, iya ia mengidap hidrosephalus. Sebuah penyakit kelebihan cairan di bagian kepala. Kasihan, tidak tega, mungkin itu yang akan kalian rasakan ketika melihatnya. Itu yang juga aku rasakan, bercampur perasaan marah. Mengapa ia tega menggunakan anak yang sakit untuk mendapatkan uang. Bukankah itu sama saja dengan menjualnya?
Terkadang aku bertanya dalam hati, tidakkah ada rasa kasih dalam hatinya. Mereka adalah perempuan, dan setahuku perempuan itu adalah makhluk yang perasa. Apa mereka tidak memiliki hati sampai tega melakukan itu pada anak yang bahkan belum tahu apa yang harus mereka lakukan.
Mudah bagiku “menyalahkan” mereka atas apa yang tealah mereka perbuat. Karena jujur saja aku juga tidak tahu bila aku berada dalam kondisi yang terdesak seperti mereka, akankah aku melakukan hal yang sama. Aku pun tak tahu. Aku bersyukur pada Tuhan untuk itu.
Bait do’aku pada Tuhan

Tuhan, aku berterima kasih padaMu untuk banyak hal yang telah Engkau berikan kepadaku. Cintamu juga begitu besar untukku. Engkau berikan banyak sekali keberkahan dalam hidupku yang tidak tahu akan bertahan pada usia berapa. Terimakasih karena Engkau menjadikanku berada di keluarga ini. Terima kasih karena Engkau menciptakan beliau untuk menjadi Ibuku, dan Engkau mengizinkanku untuk memilikinya sampai diusiaku saat ini, menemaniku dalam setiap pertumbuhanku. Dan aku mohon berikan Ibu dan Bapakku kebahagiaan serta umur panjang yang sehat dan penuh dengan berkah.

Tuhan jangan pernah engkau jadikan aku durhaka pada mereka yang telah dengan ikhlas membesarkanku, untuk Bapak dan Ibuku yang telah rela merawatkanku, sehingga aku bisa berada di tempatku saat ini, bukan di Panti Asuhan, atau bahkan juga di Pinggir Jalan untuk mengais rizki dengan meminta-minta. Ya Tuhanku, jangan pernah Engkau menjadikanku membenci mereka, sesakit, separah apapun luka yang mungkin juga ditimbulkan oleh sikap mereka. Karena aku juga hanyalah manusia biasa yang bisa juga merasakan sakit. Ku mohon Tuhan...

No comments:

Post a Comment